Banyak yg sudah tau kalau kota balikpapan itu adalah kota dengan julukan kota minyak. sejak minyak pertama kali di bor dan di nikmati oleh Belanda, Indonesia kawasan Timur ini telah menjadi rebutan pada perang dunia I dengan lahan minyak dan gas yg sangat besar. Yang saya tau negara yg telah menyantap hasil bumi minyak dan gas ini antara lain; Belanda, Australia dan Jepang.
Pada tahun 1949, akhirnya Indonesia merebut kembali Balikpapan dari negara2 penjajah tersebut. Yang kemudian tidak lama, di tahun 1957 Pertamina berdiri dan menunjuk kota Balikpapan menjadi DOH (Daerah Operasi Hulu) bagian Kalimantan.
Melihat pada tahun 2011 pada kuartal III dan IV. Balikpapan sangat kesulitan untuk mendapatkan supply fuel Solar dan Premium dari Pertamina. karena yg kita tau, Pertamina merupakan perusahaan satu2nya yg punya SPBU di Balikpapan umumnya di Kalimantan. Walaupun ada perusahaan SPBU lainnya seperti AKR. Muncul pertanyaan kenapa?! warga Balikpapan yg notabenenya adalah penduduk asli sangat kesulitan menikmati hasil bumi yg di hasilkan dari tanah mereka.
Indonesia belum siap. saya tidak membicarakan kaum intelektual yg mungkin telah siap bersaing secara prontal ke Pasar Bebas. tetapi, saya membicarakan warga menengah kebawah yg maaf saja, pendidikan masih harus banyak di asah. Warga atau masyarakat selalu ingin praktis. Attitude asas praktis ini memang telah tertanam sejak dahulu, dan Indonesia pula yg mengajarkannya. ketika Indonesia yg lepas dari penjajah dan kesengsaraan. Indonesia dan masyarakatnya berlomba menyedot informasi dan mengaplikasikannya dalam hidup. berlimpah minyak, hasil tanam, batu bara, kelapa sawit yg bagi mereka itu adalah ladang emas utk menjadi kaya.
Pada tahun 1945 setelah merdeka, bagi saya saat itu adalah titik nol untuk Indonesia berbenah dari berbagai sektor. Membuat sistem pemerintahan utk mengendalikan segala aspek negara itu bukan perkara mudah. Buktinya Undang-undang dasar yg disusun dan di terbitkan pada tahun 1945 saja masih banyak revisi dan terus saja revisi sepanjang tahun hingga sekarang. ini menandakan Indonesia masih belum siap utk menghadapi pasar global yg prontal.
Orang2 jaman dulu yg sekarang sudah pada tua. pasti mengatakan, “lebih enak dulu, segalanya mudah” kalimat itu pasti keluar dari mulut mereka. dan kenyataan itu sangat2 betul dan terverifikasi sangat jelas. Mungkin Indonesia-nya sudah sangat siap, dan itu mungkin saja sudah di persiapkan oleh kaum intelektual. tapi bagaimana dengan masyarakat itu sendiri?!
Tak dipungkiri, masyarakat itu adalah end user negara yg tak boleh dilupakan. mereka butuh hidup se-simple-simplenya. dan semakmur-makmurnya. Jika Indonesia belum bisa memakmurkan masyarakatnya dari ujung ke ujung. mimimal, upah minimum rakyat sebanding dengan nilai pengeluaran mereka dengan nilai inflasi yg seimbang pula. barulah mungkin kita bisa bicara pasar bebas. Kadang juga maaf, kaum intelektual yg mementingkan atau memikirkan masyarakat luas menengah kebawah itu sangat sedikit angkanya.
Tak banyak perdebatan untuk membahas itu. Hingga sekarang saya masih bingung, kenapa kota Balikpapan yg kita juluki kota minyak ini sangat susah untuk mendapatkan fuel khususnya solar dan premium ? bahkan pertamax juga sulit. apa ini masuk dalam program yg salah satu kata-katanya terdapat kata subsidi ? atau program yg memaksa masyarakat mampu untuk menggunakan pertamax ? bagaimana bisa jika memang itu benar terjadi?!
itulah yg saya bilang, Indonesia belum siap. kenapa dahulu minyak diberi subsidi? kenapa masyarakat dimanjakan dengan fasilitas yg nyaman namun tak panjang. untuk melayani masyarakat Indonesia sebagai end user bukan perkara mudah. sama halnya ketika kita seorang anak diberi fasilitas yg mewah, dan beberapa tahun kemudian fasilitas itu di ambil atau dikurangi utk mendidik agar lebih hemat. Impossible kan jadinya! tidak banyak yg mau mengerti, karena masyarakat telah di manjakan dengan subsidi sebelumnya. ketika diambil dan membuat harga fuel meningkat, masyarakat akan berontak. terlebih lagi sekarang, Balikpapan dan pada umumnya Kalimantan untuk mendapatkan 5 liter fuel harus mengantri berjam-jam di SPBU.
Begini ceritanya lambat laun. kesempatan Shell, AKR, Petronas atau perusahaan minyak dan gas yg punya otorisasi membuat SPBU akan menginvestasikan uangnya untuk membangun SPBU di Kalimantan akan terbuka lebar. Apakah Pertamina tak menilai hal itu?! apa karena Pertamina perusahaan BUMN jadi mereka bisa angkat2 kaki dan menepuk dada. memberi keputusan seenaknya. atau perusahaan-perusahaan swasta yg saya sebut diatas masih belum bisa invest ke Kalimantan ? jadinya Balikpapan belum pernah ada Shell dan Petronas.
saya yakin, apa yg terjadi sekarang ini juga pasti penuh dengan pertimbangan dan memperhitungkan konsekuensi yg akan terjadi. saya harap Kalimantan khususnya Balikpapan terus saja mendapatkan fuel kuota dari Pertamina sebanyak tumbuh pesatnya kendaraan di kota minyak ini.



